[Personal Summary] The Book of Questions karya Gregory Stock, Ph.D.

18023761ed1df9c5316ccfd2e4602b5a

“The Book of Questions” karya Stock merupakan buku yang saya pinjam dan literally buku ini hanya berisikan pertanyaan-pertanyaan. Tidak ada chapter atau bab. Hanya kumpulan pertanyaan yang benar-benar mempertanyakan mengenai keberadaan dan eksistensi diri. Banyak juga pertanyaan yang mengaitkan dengan hubungan, sosial, keuangan, moral, dan hal-hal yang menantang nilai diri.

Beberapa di antaranya adalah:

If you knew it would completely estrange you from your friends and family, would you follow your heart and marry a person you loved?

Do you enjoy sleeping in physical contact with your lover?

*These examples are completely biased as this is so relevant with my life.

Nilai yang saya dapat dari buku ini adalah terlalu sering pertanyaan-pertanyaan kita dilimitasi oleh apa yang kita anggap sebagai mungkin sehingga pertanyaan-pertanyaan yang mind boogling dan mind blowing jarang kita ajukan. Terlebih lagi, sering pula pertanyaan kita dibatasi oleh hal-hal yang kita anggap wajar. Hal-hal yang kita anggap bisa kita lakukan saja. Hal-hal yang kita anggap sebagai seharusnya.

Kenyataannya sebuah pertanyaan, secara esensi, memang harus memiliki nilai yang menantang, melawan, dan dapat menyerang sebuah konstruksi yang ada. Perihal disebut threat to traditional beliefs atau tidak adalah urusan belakangan, karena konstruk pemikiran yang sewajarnya adalah konstruk pemikiran yang mempertanyakan sesuatu. Mengandai-andai, mengira-ngira, dan membuka pandangan baru terhadap hal yang sudah ada sehingga terjadi inovasi, perkembangan dan perubahan.

Sebagai contoh yang relevan dengan kita, “Bila kita memiliki kebebasan finansial, kebebasan untuk melakukan apa saja, maka apakah sikap kita terhadap dunia akan berubah?” atau “Bila kita memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melakukan apa saja, maka apa yang akan kita lakukan?”

Wajar bila kita ingin melihat siapa kita yang sebenarnya akan benar-benar terlihat saat kita mampu melakukan sesuatu.

This is a basic question, but what do you really want to ask to yourself?

Ever thought about it?

 

(Disclaimersummary yang saya tulis merupakan poin-poin yang saya anggap penting, karena itu saya tekankan ini personal summary.)

(Second disclaimer: Apa yang tertulis di sini merupakan summary dari apa yang saya anggap penting dan memang dibumbui dengan penalaran-penalaran saya pribadi. All in all, hak cipta dipegang buku dimiliki oleh penulisnya.)

Iklan

[Personal Summary] What I Wish I Knew When I Was 20 karya Tina Seelig

IMG_20171121_200057.jpg

Saya menyelesaikan buku ini saat perjalanan pergi (Jakarta-Batam) dan pulang (Batam-Jakarta) dengan pesawat Garuda Indonesia. Tujuan saya pergi ke Batam adalah untuk memenuhi undangan dari Politeknik Batam. Saya diundang sebagai pembicara untuk membahas mengenai Bitcoin, mata uang kripto dan fiat money kepada orang awam.

photo_2018-01-06_17-06-52.jpg

Benar! Personal summary buku ini sebenarnya tertunda dari bulan Desember 2017.

[Bab 1] Buy One, Get Two Free

What can we do to make money if we start with absolutely nothing? 

Think about it carefully and I mean the type of soul searching level of thinking. Most of use who wants to be an entrepreneur or wants to be a problem solver for society tend to think “something tangible must be owned first, anything, at least, to be the starting capital.” Undeniably, when we talk about business one problem came to our mind: money. “I need money to make something” or “I need money to buy something then I could sell it again.”

Well, my friend, let me tell you something, money is not the very reason you should concern about when you are at the initial step of your business endeavour. Problems are. Technically and practically, entrepreneurs are paid by how much they changed people’s life through the use of their products and services. It is! And realistically speaking, problems are literally everywhere which translates to opportunity is abundant!

Thus, the very first concern is to think “What are the problems that I have as a human (or people have) in common daily life?” And if you can’t think or even find a problem that is the problem! The inability to see things as it is–good or bad–in an objective manner!

An entrepreneur is someone who is always on the lookout for problems that can be turned into opportunities and finds creative ways to leverage limited resources to reach their goals.

[Bab 2] The Upside-Down Circus

If your goal is to make meaning by trying to solve a big problem in innovative ways, you are more likely to make money than if you start with the goal of making money, in which case you will probably not make money or meaning.

As an entrepreneur, the first step of making a successful business is when we found people’s needs. Academically, it is called “need finding.” We look for the whywhat and how we can change people’s life in a practical approach where people will immediately see changes in their life. Naturally, what we need to do to arrive in such solution is to challenge the normal assumption of how and why we approach things within the status quo. Challenge the traditional assumption, common sense, and anything and everything we thought to be logical.

As an entrepreneur we are not here to merely solve the problems. We are here to solve it in innovative ways that questions the limits of what is reasonable and possible. By doing so, we negate ourselves from “problem blindness.” (Problem blindness is, for example, prior to automatic teller machines (ATM) customers assume the only way to complete transaction is only through manual teller.) Naturally, we will be richly rewarded.

[Bab 3] Bikini or Die

All the cool stuff happens when you do things that are not the automatic next step – Mike Rothenberg

Look, as what previously noted and written, when we think of something, some innovative ways to do something, naturally, we are going to be obstructed by how society perceives it. The “common norms” I’d say. For some conservative people and traditionalist it is perceived as true–the “common norms.” But, for entrepreneur we have to break it like an artist! (First thing first learn the rules, then break it!)

When we, entrepreneurs, challenged the “common norms” by doing the typical brainstorming activities or anything that could generate new ideas means we are doing something radically different and new. Making another path that is not worn-out. And, let’s be honest, we tend to get disincentive doing it, because we thought that new ideas are bad or, at least, what we generated the most is bad ideas.

Look, let me argue you this, every idea is bad. It is! A great idea is when we can make into reality. Not only a mental masturbation! (Alas, if we’re going back to the first chapter where everything is an opportunity then that means a bad idea is an opportunity to make it great!) A self-revision to revise the ideas that which we generated and created!

In a broader term, we all could lose it anyway. When we strive for the things that are within the “common norms” we still can fail. When we strive for the things that are outside of it, bigger (it might be), we can still fail. Then, why not strive for bigger things?

[Bab 4] Please Take Out Your Wallets

This chapter speaks about being proactive to gain that idea that mentioned in the previous chapters.

[Bab 5] The Secret Sauce of Silicon Valley

—The unfinished thought for chapter 5—

Let’s make a failure resume!! Yes, resume atau CV yang berisikan kegagalan kita merupakan tugas pembuka bab ini. Penulis (buku ini) merekomendasikan setiap individu menulis resume atau CV kegagalan bersamaan dengan keberhasilan—yang biasa dipakai untuk melamar kerja—dan direkomendasikan kedua resume atau CV ini di-update terus menerus. Dengan melakukan hal ini setiap individu menyadari bahwa dari kegagalan pun tetap ada hal yang bisa dipelajari. (So, it is not “Sometimes we win and sometimes we learn.” It is “Either we win or lose, we learn something!” Furthermore, making an euphemism will not change the fact that we, indeed, lost.)

Penulis (buku ini) mengambil contoh Silicon Valley yang mengakui bahwa kegagalan merupakan proses yang natural di setiap hal dengan mengutip “…Randy Komisar KPCB notes that being able to view failure as an asset is the hallmark of an entrepreneurial environment.” Melanjutkan fakta juga bahwa bayi memang tidak bisa langsung berlari. Bayi harus dimulai dengan hal yang sederhana, yakni merangkak, berdiri, berjalan dan seiring waktu barulah berlari dan dalam prosesnya pasti terjadi berbagai kejatuhan! (Here we see a drastic point of view that “We can’t never be successful if we never failed. We also can never be a mature adult if we aren’t able to detach our self-identity with success and failure for both success and failure, in an authenticity of being, are not our identity. It’s but a mere projection of how far we can do something and everything outside is a feedback mechanism given by reality that which we should take note of!” And yes, I agree with the writer!)

Terdapat dua cara untuk menjadi

Penulis (buku ini) juga menjelaskan bahwa perusahaan book publishing (according to Nielsen Bookscan) di tahun 2004 dari 1,2 juta buku yang dicetak hanya 25.000 yang terjual lebih dari 5.000 kopi. Hanya 2%! 

[Bab 6] No Way… Engineering Is for Girls

The sweet spot is where your passions overlap with your skills and the market. – Tina Seelig

This chapter speaks about career advice where passion could be your the driving force for your career, but not your sole reason to jump in. Being a realistic being, one must ensure that when one wants to develop something, for example a side business or a wonderful hobby turned business, one must make sure s/he has a source of income to sustain. To live. Just jumping in is not the solution. A realistic approach is required.

Albeit even if you already planned out everything, the projected revenue, the potential income, risk, and everything, you are not in any way fixing your life as it is. Unexpected things will happen, detours, hindrances, problems, anything related to swaying away your plan will happen and as an entrepreneur you should enjoy it! Maximize it. For at some point you might realize your calling is not really what you thought for. It might be something else.

Life gives you lemon? Make something out of it or throw it to someone’s else face. Be creative!

[Bab 7] Turn Lemonade into Helicopters

Let’s make it clear there is no luck without hard work.

Ideas are like________, because_______. Therefore______. (Fill it!)

 

[Bab 8] Paint the Target around the Arrow

Keep in mind that everything someone does for you has an opportunity cost.

The point that I took in this chapter is simply respect others. A simple attitude such as, “I am sorry that I missed your point. May you repeat it again?” or “Pardon. I slipped that. Let me re-do it again” will make a difference to how people will react to you. You don’t need to give a long, carefully elaborated or any form of justification. Save some time and get to the point. If you are in the wrong immediately say so and apologize. If you are in the right think about what is the best reaction you can give for the other person.

Say “thank you”, heck, make a thank you notes for people. List what you are grateful for others! Do the right thing not really the smart thing. Take this everywhere, where you are talking to others–especially negotiation. For example when you are negotiating make it as win-win as possible and if things gone wrong saying “No!” or rejecting the negotiation is the right thing to do. Sometimes we gotta let it go.

[Bab 9] Will This Be on the Exam?

Never miss an opportunity to be fabulous!

[Bab 10] Experimental Artifacts

–00–

(Disclaimersummary yang saya tulis merupakan poin-poin yang saya anggap penting, karena itu saya tekankan ini personal summary.)

(Second disclaimer: Apa yang tertulis di sini merupakan summary dari apa yang saya anggap penting dan memang dibumbui dengan penalaran-penalaran saya pribadi. All in all, hak cipta dipegang buku dimiliki oleh penulisnya.)

[Personal Summary] Melawan Miskin Pikiran karya Hasanudin Abdurakhman

COVER-MISKIN-PIKIRAN.jpg

Melawan Miskin Pikiran karya Hasanudin Abdurakhman

Pertama kali saya mengetahui mengenai kang Hasan berkat re-post dari rekan saya Joe Exorio di Facebook mengenai tulisan di blog http://abdurakhman.com. Saya pun membacanya dan hasilnya saya jadi ketagihan untuk terus membaca tulisan-tulisannya di blog beliau.

Saat beliau merilis buku “Melawan Miskin Pikiran” saya pun pre-order agar mendapatkan buku yang ditandatangangi. Yes! Sesampainya buku tersebut datang saya pun melahapnya, mencoret-coretnya dan ini merupakan kali kedua saya membacanya. Baiklah.

[Bab 1] Melawan dengan pendidikan

Don’t let schooling interfere with your education. – Mark Twain

Bagian ini membahas mengenai pendidikan Indonesia yang secara sistematis mencetak lulusan penghafal dan pelafal. Bukan pelaku atas sesuatu. Cetakan yang terjadi adalah individu-individu yang mengetahui fakta “Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman agama“, tetapi tidak serta merta memahami “Bagaimana menindaki fakta tersebut.”

Wajar sekali bila jumlah pengangguran terdidik, penyandang gelar, mencapai 695 ribu (Badan Pusat Statistik dalam Jawapos, 2017). Sekali lagi, bagi saya, ini sangat wajar, karena banyak raksasa di kampus yang menjadi kerdil di masyarakat. Individu-individu ini mengasumsikan bahwa memiliki pendidikan formal sudah cukup. Kenyataannya? Jauh dari cukup.

Untuk mengelaborasikannya, katakan skill minimum untuk bekerja di angka 10. Tidak sama dengan pendidikan formal dapat membawa seseorang ke angka 10 tersebut. Tidak sama dengan pula mereka yang memiliki pengalaman di UKM atau organisasi dapat mencukupkan kapasitas dan kualitas dirinya. (Saya sendiri menyadari bahwa rapat di UKM atau organisasi kalah jauh dibanding rapat di perusahaan. Benar-benar to the point dan straight ke daging masalah dilanjutkan dengan brainstorming untuk menyelesaikannya. Berbeda dengan rapat UKM atau organisasi yang penuh drama omong kosong.)

Untuk mencapai angka 10 tersebut mereka harus mengikuti berbagai kegiatan tambahan yang dapat meningkatkan skill dan memperluas koneksi mereka di dunia nyata. Contohnya dengan melakukan magang, mengikuti organisasi non-profit, atau, bahkan, membuat komunitas sendiri dengan sebuah tujuan yang jelas. Ini penting, karena yang kalah di dunia ini akan masuk ke dunia satu lagi. Dunia pengangguran.

Dunia pengangguran adalah dunia di mana orang-orang yang memang tidak mampu hidup, karena kita menggunakan sistem meritokrasi. Hanya mereka yang mampu dan berkapasitas yang akan mendapatkan posisi.

Lucunya, tidak sedikit mahasiswa yang lulus S1 mengambil S2 dengan harapan akan mempermudah mereka mendapatkan pekerjaan di suatu hari ini. Apakah iya? Nope.

Saya katakan, tanpa tujuan yang tegas dan spesifik, melanjutkan kuliah S2 hanya akan memperpanjang masa status mahasiswa sebagai kamuflase untuk menutupi pengangguran. – Hasanudin Abdurakhman

Sebagai tambahan, saya pun setuju dengan minimnya pemahaman konsepsi di otak masyarakat. Konsep yang melahirkan tata laksana bagaimana kita bertindak. Simpelnya adalah tabiat kita dengan sampah. “Apakah kita membuang sampah sembarangan?” Jujur. Melihat masyarakat kita bagai sampah dibuang tanpa mempertimbangkan konsekuensi atasnya.

[Bab 2] Melawan dengan akal sehat

Tajuk besar buku ini adalah miskin pikiran. Miskin pikiran adalah mereka-mereka yang malas, yang enggan bekerja, yang menghindari fakta bahwa untuk hidup memang harus bekerja. Dan mereka yang miskin sebenarnya bisa menaikkan taraf hidupnya asalkan bekerja. Bekerja, bekerja, dan bekerja yang pastinya meningkatkan pemikirannya, aksinya, dan hidupnya. Bahkan, orang-orang yang miskin berkat pemikirannya, yang menikmati kemiskinannya dengan meminta-meminta, sebenarnya melestarikan kemiskinan itu sendiri. (Berdasarkan ini, saya setuju dengan kang Hasan. Karenanya pula, bila kita ingin sedekah pastikan diberikan ke organisasi yang memang mengurus dan memproduksi sesuatu kepada masyarakat. Misalnya menggunakan jasa kitabisa.com atau, malah, memberi modal kepada orang-orang yang ingin berusaha.)

Dari titik pemikiran untuk hidup memang harus bekerja, maka akan dihasilkan mental pendaki. Bukan mental puncak. Pendaki, sesuai dengan katanya, adalah mereka yang terus meningkatkan dirinya secara giat. Tidak pernah puas dengan kondisi saat ini. Never settle! Pendaki adalah mereka yang tidak pernah dan tidak akan terlena dengan kemaslahatan, kenikmatan, dan kenyamanan saat ini. Mereka memikirkan secara jangka panjang dengan mempersiapkan pula orang-orang di sekitarnya. (Tentu kita tahu orang-orang yang bila diajak berbicara akan membahas mengenai hal-hal seperti tujuan hidup, makna hidup, sejauh mana kita akan berpergian dan seterusnya.)

Pola pikir ini, bila disatukan, akan merujuk kepada fakta memang hidup dibentuk oleh tangan kita masing-masing. Hanya kita dan kita saja yang dapat merubah hidup kita. Fakta ini akan membawa kita untuk merancang kehidupan sebagaimana yang kita hendaki. (Pernahkah kamu merancang “Hidup aku yang ideal bagaimana?”) Sembari menjalaninya pula, kita perlahan-lahan akan menemukan jati diri kita yang sebenarnya. Sebagai contoh rekan saya yang bekerja dan perlahan-lahan menumbuhkan rasa cintanya terhadap kopi. When we ask our-self, truly, as who we really are regarding What do I really want well get it. Setelahnya ya sederhana. Buang diri kita di jawaban itu. Look we can fail melakukan apa yang tidak kita cintai, lantas mengapa kita melakukan apa yang kita cintai?

Terus, apabila gagal, ya memang wajar kita gagal toh. Sesuai apa yang dinyatakan Pandji awalnya ya wajar jelek, karena memang awalan. Berikutnya? Revisi. Revisi. Tingkatkan. Bahkan, tidak serta merta gagal sempurna kok, karena saat gagal itu pun sudah menjadi bukti kita keluar dari comfort zone. Terlebih lagi, sesuai argumentas kang Hasan, “…banyak persiapan kita yang masih bisa dipakai ulang.” Right. By the way, you are going to fail. You are. Tidak bisa hanya ambil suksesnya doang. Tapi, again, everytime you fail remember that Tuhan hidupin you di sini bukan untuk dizalimi. (Ibarat pedang yang bagus harus ditempa.)

When you fail you will realize what is wrong and what is right and youll be able to take itthings that are, indeed, workingand repeat it. Re-use it. Oleh karena itu, when you are going in this direction hidup jadi berbedap. Demi waktu, energi, dan pikiran akan menjadi sangat penting. Ritme kehidupan akan berbeda dan memaksakan diri untuk memikirkan hal-hal yang memang perlu. Sebagai contoh Mark Zuckerberg yang menilai memikirkan fashion adalah hal yang bodoh, karena dirinya perlu memastikan otaknya terpakai untuk membuat keputusan-keputusan yang jauh lebih penting.

Menilisik dari sini, secara literal, dapat disadari bahwa kapasitas diri manusia memang dapat dinyatakan tiada batas. Saat seseorang telah mencapai titik tertinggi yang dirinya maksud, nyatanya, memang sebuah titik yang tinggi tetapi bukanlah yang tertinggi. Andaikata seorang individu yang memiliki pangkat tertinggi di regional A, maka tidak sama dengan pangkatnya tertinggi di tertori A tersebut. Ada yang lebih tinggi. Dan yang tertinggi pun akan ada yang lebih tinggi. Ini menyatakan pula kebodohan yang kental bila kita mengasosiasikan diri kita ada batas atau target yang ingin dicapai merupakan target yang tertinggi.

Pembebasan pemikiran atas batas-batas akan memberikan kepastian (juga kesadaran) bahwa kita merupakan individu yang dapat memberikan signifikansi kepada “gambaran yang lebih besar itu”. Praktisnya saya adalah warga negara Indonesia. Namun saya juga warga dunia. Sebagai warga dunia pula saya tidak boleh hanya memiliki kemampuan berkualitas global. Tapi, juga tabiat-tabiat, pola pikir, dan pandangan yang lebih luas. (Maaf kata) Sebagai warga negara Indonesia ada kecenderungan kita membuang sampah sembarangan dan itu di negara Singapura, katakanlah, merupakan dosa yang layak dedenda. Bila otak saya terpaku di kebiasaan buruk ini cenderung di mana saja saya bisa buang sampah sembarangan. Nah, bila saya mempertimbangkan fakta saya sebagai warga dunia yang memiliki tabiat universal “sampah itu akan saya buang pada tempatnya seperti sampah organik akan ditaruh di tempat sampah organik”.

Berikutnya, tidak hanya sampah, tapi juga ketepatan waktu dalam setiap perjanjian yang dilakukan. Tabiat untuk memiliki keterbukaan pikiran. Kesadaran untuk menerima ideologi baru tanpa memiliki prasangka atau praduga bersalah. Kemampuan untuk memiliki pandangan pro dan kontra bersamaan. Dan seterusnya. Jujur apakah ini, bila dilakukan di Indonesia, akan mengundang nyinyiran “Wah pencitraan ini” atau yang sejenisnya? Yes! Tapi, sebuah citra yang akan dibentuk memanglah citra yang berdasar dan berarti bukanlah sebuah kebohongan untuk menjilat. Sekali lagi, sebuah citra yang mendidik, menyatakan contoh, dan menunjukkan siapa diri kita secara kebermanfaatan apakah buruk?

[Bab 3] Melawan dengan kedisiplinan

None. LOL.

[Bab 4] Melawan dengan kerja

Keahlian dan keterampilan ibarat suatu barang yang kita miliki, berguna atau tidaknya sangat tergantung pada situasi yang ia hadapi. – Hasanudin Abdurakhman

Contohnya uang. Sehari-hari uang merupakan benda yang penting sebagai alat tukar, tetapi saat Anda dan rekan Anda tersesat di hutan uang bukan lagi menjadi benda yang penting. Senjata untuk bertahan hidup dan api untuk memasak yang menjadi hal penting. Menarik ini ke pekerjaan yang penting menjadi Apa keahlian yang Anda miliki yang sesuai dengan kondisi pasar. Oleh karena itu, setiap kali membentuk sebuah CV atau resume harus dipastikan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemberi kerja. Bahasa kerennya a customized CV. Ini sama dengan saat Pandji membuat proposal meminta sponsor, karena Pandji menyesuaikan proposalnya dengan calon pemberi sponsor. (Sebagai tips: di zaman ini ada yang namanya LinkedIn yang bisa dijadikan online CV. Pastikan LinkedIn Anda di-update setiap Anda mencapai sesuatu.)

Pada saat menerima pekerjaan nanti, pastikan gengsi patut dibuang. Misalkan keinginan untuk bekerja di Jakarta pusat, kawasan elit bisnis, dengan pakaian bagus dan di kantor mewah. Ya, sebenarnya, karakteristik ini juga sesuai dengan petugas resepsionis hotel toh. Gengsi ini dosa yang membutakan kita melihat kesahihan substansi sebuah pekerjaan. Substansi pekerjaan adalah pekerjaan yang dicapai dengan kinerja pribadi, kemampuan pribadi, sebuah tanggung jawab yang diupah berkat kapasitas pribadi yang mumpuni. Oleh karena itu, sebuah pekerjaan berkaitan dengan pertumbuhan individu. Tidak hanya mati berkat rutinitas. Tapi, berkembang yang, pada akhirnya, meningkatkan sumber daya sekitarnya dengan menjadi value yang hidup. Kebermanfataan diri akan terlihat dan mempengaruhi orang lain yang menghasilkan pertumbuhan bersama!

Elemen ini yang akan menghasilkan sebuah nilai pada pekerjaan kita nanti. Pada hakikatnya sebuah pekerja akan dinyatakan hebat saat bisa mengerjakan pekerjaannya.

Punya pekerjaan tidak menjamin seseorang menjadi hebat. Dia baru hebat kalau dia melakukan pekerjannya dengan baik. – Hasanudin Abdurakhman

 

(Disclaimersummary yang saya tulis merupakan poin-poin yang saya anggap penting, karena itu saya tekankan ini personal summary.)

(Second disclaimer: Apa yang tertulis di sini merupakan summary dari apa yang saya anggap penting dan memang dibumbui dengan penalaran-penalaran saya pribadi. All in all, hak cipta dipegang buku dimiliki oleh penulisnya.)

[Personal Summary] Unfu*k Yourself karya Gary John Bishop

cakf-square-orig

Buku ini gue pinjam dari teman gue dan gue tertarik berkat judulnya yang provokatif dan catchy.

[Bab 1] In the Beginning

In the beginning you are the answer to all of your questions. Seek within.

Setiap harinya kita memiliki berbagai pemikiran dari berbagai arah mengenai berbagai topik. Setiap pemikiran tersebut dirangkai menjadi kalimat-kalimat untuk dapat diutarakan dan dilontarkan kepada diri sendiri dan orang lain. Setiap kalimat yang terlontar tersebut pun tidak hanya mempengaruhi orang lain, tetapi juga diri sendiri. Kuncinya adalah apa yang diucapkan ke diri sendiri. Kita tidak  berbicara mengenai sebuah afirmasi atau kalimat positif yang kita ucapkan secara sadar saja. Kita berbicara mengenai kalimat-kalimat yang diucapkan secara keseluruhan.

Apa yang diucapkan ke diri sendiri (self-talk) menghasilkan batasan (limit) yang dapat dicapai. Sebagai contohnya orang-orang yang berulang kali mengucapkan “mencari kerja susah” dan dalam hidupnya mencari pekerjaan menjadi susah. Berbeda dengan orang-orang yang tidak mengucapkannya dan tetap bersikeras mencari pekerjaan. (Self-fulfilling prophecy.)

If you’re sometimes talking about how “unfair” life is, you’ll start to act according to that view, perceiving slights where non exist or, as studies have shown, putting less effort into your work because you’ve already determined it won’t accomplish anything. – Bishop

Untuk itu setiap manusia harus sadar mengenai pemikiran-pemikiran yang berputar di pikirannya. Tiap hari terdapat berbagai pemikiran dan tiap saat itu pula kita harus sadar dan mengarahkannya ke arah yang diinginkan. Oleh karena itu pula, kita tidak berbicara mengenai afirmasi. Kita berbicara mengenai peningkatan kesadaran untuk mengarahkan pemikiran menjadi asertif dan mengandung pokok-pokok yang ingin kita capai.

Katakan kita telah bekerja dan ingin beristirahat, maka berkatalah “I am exhausted. Thus, I’m going to rest.”

Katakan kita melakukan aktivitas yang kita benci, maka berkatalah “Yes. I accept the fact that I hate this, but it will not change another fact that I should give my best for this is my work.”

Saya juga merekomendasikan untuk memperluas kosa kata yang kita miliki sehingga dapat semakin tepat dan akurat dalam menyatakan sesuatu. Kata “Tidak” dengan “Enggan” memiliki makna yang berbeda. Begitu pula kata “Senang” dengan “Bahagia.” Memperluas kosa kata akan mengajari kebiasaan kita untuk semakin tepat dan akurat dalam merangkai kalimat. Caranya? Sering-sering membaca!

[Bab 2] I am willing

Like it or not everything IS your fault!

Penghasilan pas-pasan? Hubungan sosial tidak memuasan? Kelebihan berat badan? Well, itu semua salahmu. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, hanya orang kaya dan berhasil yang berani berkata self-made bukan orang miskin dan gagal. (Note that if you are currently facing hardships and able to accept that you are at fault means you’re one step closer to being successful.)

Terlepas dari apa pun itu—hal-hal yang di luar kontrol—manusia tetap memiliki kontrol dalam bagaimana menyikapinya. Kematian orang yang dicintai bisa dijadikan justifikasi untuk kesedihan atau dijadikan justifikasi untuk menggapai keberhasilan. Karenanya, saat kita menilai lagi kehidupan kita yang seperti “ini” kita harus mengakui memang inilah kehidupan yang kita pilih. (Tidak memilih juga merupakan pilihan.)

The dictionary describes willingness as “the quality or state of being prepared: Readiness.”

So, are you willing to change your life? (Being ready to accept all of the hardships that are inevitable?)

Mau memiliki penghasilan lebih?

  • Siap bekerja lebih keras?
  • Siap berdagang baik secara online atau tidak?
  • Siap berinvestasi?
  • Siap menanggung risiko?

Mau memiliki tubuh yang sehat?

  • Siap mengurangi konsumsi gula?
  • Siap meluangkan waktu untuk berolahraga?
  • Siap membayar general check-up rutin?

Dalam keinginan atau kemauan selalu ada hal-hal yang harus disiapkan. Bila tidak mampu lebih baik diam. Tidak usah komplain. Tidak usah merengek. Tidak usah menangis. Ini pilihan. Ingat! Life will not stop for you bullshit excuses. It will only move forward.

At the same time, we can reverse it into being unwilling. Misalkan, “Apakah kamu mau hidup tidak sehat?” Tentu tidak. Tentu you are unwilling! Oleh karena itu, kamu mengurangi konsumsi gula yang berlebihan, meningkatkan frekuensi olahraga, dan rutin check-up. Yes. This is a simple reverse logic.

Got it? Ini merupakan logika sederhana di mana individu harus memiliki daftar hal-hal yang willing dan unwilling ada di kehidupannya dan make it happen!

[Bab 3] I am wired to win

You are a champion. You’ve knocked out goal after goal, cruising to an undefeated record. Everything you set your mind to comes true.

It might be mind boggling, but everyone is a champion. Everyone is wired to win. Automatically. Untuk memahaminya coba perhatikan orang-orang yang memiliki persepsi bahwa dirinya tidak layak dicintai atau orang-orang yang yakin dirinya tidak akan dapat memiliki pasangan. Apakah mereka akan mendapatkan pasangan? Mungkin. Tapi, di dalam hubungannya individu-individu ini akan mencoba untuk mensabotase hubungannya  secara sadar atau tidak.

Ambil contoh lain dalam konteks keuangan. Perhatikan orang-orang yang ingin mendapatkan gaji yang cukup untuk membayar kehidupannya. Orang-orang ini, bila memiliki batasan mental gaji Rp5 juta atau pendapatan Rp5 juta akan tetap bertahan di situ. Bila mendapatkan lebih dari itu akan ada kecendrungan untuk mensabotase dirinya seperti menghabiskan uang sembarangan yang mengakibatkan dirinya tidak bisa menabung. No wonder people tend to increase their monthly expenses if their income increases.

See? You are wired to win. You are wired to achieve what you—subconsciously or consciously—aim. Basically, you’re on autopilot, mindless gouging your way through life’s predictable, muday field.

[Bab 3] I got this

Pengalaman yang buruk atau baik memiliki dampak seperti racun yang menyebar. Katakan seseorang menghadapi masalah keuangan. Berkat masalah keuangan tersebut dia terus menerus memikirkan keuangannya yang mengakibatkan makanan yang dimakan tidak terasa lagi nikmatnya. Terlebih lagi, dirinya akan menemukan hal-hal kecil yang biasanya tidak diperhatikan menjadi hal-hal yang menyebalkan. Suara gonggongan anjing, suara seekor kucing, dan seterusnya. Begitu juga bila seseorang tersebut merasa bahagia. Semua hal dapat menjadi sangat menyenangkan.

Berdasarkan ini, let’s be honest, apakah semua masalah yang kita hadapi benar-benar seberat itu? (Begitu juga kebahagiaan yang kita alami.) People said the best is yet to come and so does the worst!

Melihat ke belakang juga, apakah situasi saat ini—baik atau buruk—merupakan situasi yang sangat-sangat luar biasa baik atau buruk? Kenyataannya dulu-dulu pun tiap-tiap dari kita menghadapi situasi yang buruk yang sangat-sangat buruk (atau sebaliknya), tetapi tidak sama sekali membunuh kehidupan.

[Bab 4] I embrace the uncertainty

Our aversion to risk, which was once necessary, no longer is. Those same survival instincts that once kept us alive can now be the very thing that keeps us from actually living. – Bishop

Kepastian adalah omong kosong. Tidak ada kepastian di dunia ini selain kematian dan kehidupan, karena “yang hidup pasti mati” dan “yang mengalami mati pasti hidup.”

Pikirkan baik-baik apakah bisa sesuatu yang baru, katakan rumah yang baru, bisa didapatkan bila kita tidak melakukan apa-ap untuk mendapatkannya? Tindakan seperti mengatur keuangan, mencari lokasi strategis untuk rumah berikutnya, dan seterusnya.

Pikirkan baik-baik pula, apakah sesuatu yang “aman” yang kita hidupi saat ini benar-benar aman? Atau hanya ilusi?

Pikirkan baik-baik lagi, pada saat kita melakukan sesuatu, baik atau buruk, akan komentar dari orang lain. Antara kritikan tidak bermanfaat, kritikan konstruktif, dan outright bullshit.

Berdasarkan ini, bisa dikatakan gila bila kita mengharapkan sesuatu yang baru tetapi tetap melakukan hal yang itu-itu saja. To be number one you have to be odd.

[Bab 4] I am not my thoughts; I am what I do

Ingat kembali di awal bahwa kita memiliki berbagai kalimat yang kita ucapkan ke diri sendiri. Dan apakah kalimat tersebut positif atau tidak, kenyataannya, sama sekali tidak akan menyatakan dan juga mendefinisikan siapa kita. Kita adalah apa yang kita kerjakan. Kita adalah apa yang kita lakukan dan apa yang kita lakukan akan menghasilkan sesuatu. (Balik lagi ke bagian sebelumnya bahwa adalah gila mengharapkan hal baru bila melakukan hal yang itu-itu saja.)

Inaction breeds doubt and fear. Action breeds confidence and courage. If you want to conquer fear, do not sit home and think about it. Go out and get busy. – Dale Carniege

Berdasarkan kerangka pemikiran ini, kita semua harus bertindak sesuai realita dengan pertimbangan konsekuensi tindakan tersebut. (Fu*ck affirmation and positive thinking!Look! Chances are you have a friend who have plenty of good thoughts but never accomplished much!

Sebagai contoh nyata kita asumsikan dua orang yang berbeda. Si A membeli buku-buku yang membahas mengenai public speaking. Si A juga mengikuti kelas-kelas online. Sedangkan si B tidak sama sekali dan langsung bergabung ke organisasi public speaking seperti Toastmasters International. Si B juga langsung berlatih di berbagai kesempatan.

Bila kita bandingkan si A dan si B dalam masa 30 hari, maka tentu si B yang lebih berkembang ketimbang si A.

It’s all about action. Going out there, doing it, and taking all your negative bullshit along for the ride. – Bishop

Action may not bring happiness, but there’s no happiness without action. – Benjamin Disraeli

[Bab 5] I am relentless

Here’s the crazy thing: you can never really prove what’s possible or impossible.

The truth is, you can never really know. We never really have all the facts.

– Bishop

When we set a goal and when we really act on it people will say, claim and argue that it is impossible or it might be impossible or whatever. Tapi, saat kita berpikir dan membayangkan tujuan tersebut terjadi di akhir nanti dan kita bertanya “Is it worth it?”

Look! You can choose which form of pain yang akan dirasakan nanti. The pain of regret dikarenakan tidak mengejar dan memperjuangkan tujuan tersebut atau rasa sakit berkat disiplin mengerjakan hal-hal kecil dan perlahan untuk mencapai tujuan tersebut?

[Bab 6 ] I expect nothing and except everything

Stop doing all that shit you know you shouldn’t be doing and start doing all the shit you know you should be doing. – Bishop

Poin penting dari bagian ini adalah manusia yang ingin mencapai tujuannya tidak boleh berekspektasi sama sekali. Yang direncanakan adalah kemenangan dan bagaimana mencapainya juga mengapa harus dicapai dan selama memanifestasikan kemenangan tersebut kita harus belajar dari semua yang terjadi. Semua.

Faktanya tidak ada yang mengetahui semua fakta dan data yang ada mengapa sesuatu bisa terjadi, karena memang ada hal-hal yang di luar kontrol manusia. (Saya sendiri berargumen bahwa sumber penderitaan manusia diakibatkan oleh keinginan untuk mengontrol hal-hal yang memang tidak dapat dikontrol.)

[Bab 7] Where next?

Here’s the thing: future you is not going to regret a lack of achievement or the absence of any one thing in your life. The only thing you will regret is not trying. Not striving. Not pushing through when the going got tough. – Bishop

 

fin.

(Disclaimersummary yang saya tulis merupakan poin-poin yang saya anggap penting, karena itu saya tekankan ini personal summary.)

(Second disclaimer: Apa yang tertulis di sini merupakan summary dari apa yang saya anggap penting dan memang dibumbui dengan penalaran-penalaran saya pribadi. All in all, hak cipta dipegang buku dimiliki oleh penulisnya.)

[Personal Summary] Persisten: Kisah Nyata di Balik Perjuangan Orang Indonesia Pertama yang Menjalankan Tur Dunia oleh Mhd. Husnil & Pandji Pragiwaksono

21574

Buku “Persisten” merupakan buku yang mendadak saya beli 26 November, karena saya memang tertarik dengan pemikiran Pandji. Dirinya sebagai komika dan dirinya sebagai komika pertama yang melakukan world tour.

(Disclaimersummary yang saya tulis merupakan poin-poin yang saya anggap penting, karena itu saya tekankan ini personal summary.)

(Second disclaimer: Apa yang tertulis di sini merupakan summary dari apa yang saya anggap penting dan memang dibumbui dengan penalaran-penalaran saya pribadi. All in all, hak cipta dipegang buku dimiliki oleh penulisnya.)

Terdapat tujuh bab di buku Berikan yang TerbaikBerkat Obrolan SantaiDari Tahu Basi Sampai Kadal BuntungMelucu di Bawah TekananYah, Gimana Dong?PERSISTEN, dan Pembuktian Menjadi Wongsoyudan.

Here’s the summary:

[Facts]

Buku ini ditulis juga oleh Mhd. Husnil dengan intensi untuk meraih brutal honesty terhadap segala hal yang terjadi di Juru Bicara Stand-up Comedy World Tour. Which is a truly great thing, karena dapat mengurangi bias pribadi.

Mari kita awali dengan mulainya Pandji meniti karier sebagai komika. Beliau mengagumi Louis C.K. dan Chris Rock, karena kedua komika ini memasukkan kritik sosial bernada perjuangan dalam bit mereka. Contohnya Chris Rock yang membawa rasialisme demi menyadarkan publik. Nah, Pandji pun, di Juru Bicara, membawakan isu Hak Asasi Manusia (HAM), sejara, pendidikan, prosititusi hingga agama. Pandji melakukan ini dengan harapan mengangkat pembicaraan, perdebatan, dan perdebatan yang dapat meningkatkan kesadaran khalayak ramai terhadap isu-isu ini.

Komedi adalah cara yang paling gampang untuk menyampaikan fakta-fakta dan kebenaran yang sulit. – Pandji P.

[Logic]

Untuk itu, metodenya tidak hanya mengemas fakta tersebut agar mudah dicerna, tetapi juga meningkatkan kualitas penyampaiannyaKebenaran dan cara mencapainya merupakan hal yang penting. Oleh karena itu, memastikan kualitas penyampaian Pandji memantrakannya dengan BERIKAN YANG TERBAIK.

Dalam konteksnya tidak hanya mereka yang berani meluangkan waktu, energi, dan uang untuk mengkonsumsi karyamu harus menerima yang terbaik. Namun juga fakta bahwa when we jadi konsumen kita juga mengharapkan yang terbaiklah yang kita terimaTerlebih lagi, keindahan memberikan yang terbaik adalah saat kita menemukan kesalahan dan memperbaikinya sehingga kapasitas yang terbaik kita meningkat!

Yang ingin dicapai adalah peningkatan kapasitas secara terus-menerus. Bukan mengharapkan hasil instan yang sempurna, karena ini tidak logis. Sewajarnya di awal semuanya jelek dan dari situ perkembangan terjadi. Bahkan, sekelas Pandji saja bisa ngebom saat melakukan stand-up. Tapi, apakah itu memberhentikan Pandji? Kenyataannya tidak dan sekarang dirinya telah melakukan world tour dua kali yang meningkatkan kariernya sebagai komika dan mengharumkan negara ini!

Karena itu pula, selayaknya setiap perjalanan dibumbui destinasi. Tujuan. Bahasa umumnya mimpi. Mimpi tersebut dihidupi, dimanifestasikan, dan dinyatakan sebagai sesuatu, karena bila tidak penyeselan akan menghantui.

Mimpi sendiri cenderung dibentuk secara dadakan. Asal klik saja. World tour Pandji pun, nyatanya, hanya berkat celetukan singkat yang terjadi di 2013. Dirinya pun terobsesi dan menjadikannya kenyataan. (Hanya sebuah celetukan yang menjadikan dirinya komika pertama di Indonesia yang melakukan world tour!)

Dalam penalaran logis, sebuah mimpi dapat direalisasikan berkat niatan yang kuat terlepas dari hambatan apa saja. Sebagai contoh awal kehidupan Bill Gates, Pandji, Steve Jobs, Elon Musk, dan seterusnya. Persetan hambatan luar apa, karena bila Nick Vujcic saja mampu masa kita tidak?

[Challenges]

Awalnya saya kira Pandji melakukan world tour dengan bahasa Inggris dan ternyata saya salah. Pandji melakukannya dengan bahasa Indonesia.

“Kenapa kita nggak bikin karya yang bagus dan bikin orang-orang jadi belajar bahasa Indonesia, sebagaimana orang Indonesia pada belajar bahasa Korea supaya ngerti lagu-lagu dan serial TV Korea?” – Pandji

Tidak hanya fakta ini mematahkan praduga saya, tapi juga saya setuju akan argumentasinya. Sudah saatnya negara ini yang mengekspansi ke luar menggunakan bahasanya. (Terlebih lagi, bahasa Indonesia menduduki posisi enam besar bahasa yang diminati untuk dipelajari.) Melihat hal ini bahasa bukan lagi sebuah hambatan. Kualitas-lah yang menjadi penentu.

Melihat contoh Jepang dengan anime-nya, ketahuan bahwa yang terpenting merupakan kualitasnya. Bawakan karya yang berkualitas dunia. Nasionalisme sangat kentara sekali di pemikirannya.

Peran apa yang bisa saya lakukan untuk Indonesia? – Pandji

Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu! – JFK

Dua pernyataan ini beresonansi di kepala saat memikirkan, mengobservasi, dan menilai apa yang terjadi di status quo Indonesia. Berbagai benturan keinginan dari hal remeh yang diakibatkan ketidaksadaran diri atas perannya dalam suatu konteks. Misalkan kewajiban membayar pajak atau juga kewajiban mematuhi hak-hak pengguna jalan.

Nah, Sejujurnya ini tolol dan konyol saat melihat berita tentang pejalan kaki yang disalahkan. Bung! Sejak kapan pejalan kaki salah saat mereka menggunakan haknya berjalan di tempat yang telah disesuaikan? Terlebih lagi menyatakan “Pejalan kaki yang bikin macet.” (Edan!)

Membicarakan peran sebagai manusia yang bernegara tidak perlu dipikirkan hal-hal makro seperti menghapus korupsi, meredakan macet, dan sejenisnya, karena kapasitas tiap-tiap orang berbeda untuk saat ini. Pak Jokowi sebagai Presiden RI memiliki kapasitas makro, bahkan global, nah kalau loe? Mulai dari buang sampah pada tempatnya. Membaca buku. Berhenti mengkonsumsi hal-hal tolol ke otak. (Logikanya rumah dikotorin marah, kok otak diisi hal-hal tolol kagak?)

Yes, for this point your role as a citizen revolves around What makes you a good human being. Then, move from good to great.

[Epiphanies]

“Kuncinya adalah sumber daya manusia. Orangnya yang harus menjadi kaya! Orangnya yang harus terdidik agar siap menghadapi masa sekarang!” – Pandji

Benar! Di era demokrasi yang berisikan freedom of speech, expression, dan berbagai bentuk freedom lainnya yang harus ditingkatkan adalah manusia-manusia yang memiliki bentuk-bentuk freedom ini. Dengan begitu proses pengambilan keputusan menjadi akurat, tepat, dan cenderung sesuai konteks, bahkan, sustainable. Bukan dengan menutupi opsi-opsi. Seperti menonton film porno melalui website online. Saya pribadi lebih setuju tidak ditutup. Tapi, ditegaskan hanya untuk yang berusia dewasa dan tiap-tiap orang dewasa harus mengawasi mereka yang belum. Juga edukasi seksual yang tidak hanya pemahaman biologis, tetapi psikologis, etis dan elemen-elemen lainnya. Dengan begitu individu semakin sadar “Apa-apa yang boleh dilakukan” dan “Apa-apa yang tidak boleh” yang menghasilkan maturasi pemikran.

Open society akan benar-benar terbentuk saat apa-apa yang menjadi basis pikir, ucapan, dan tindakan diawasi oleh kesadaran diri terhadap dampak-dampak yang dapat terjadi. Sejujurnya, bila seseorang menyadari signifikansi dampak tindakannya, maka cenderung dirinya dapat mengalah atau mencari win-win solution untuk semua pihak.

[Challenges. Again.]

Di dalam perjalanan world tour yang dilakukan Pandji dirinya menghadapi berbagai tantangan.

  1. Pengelolaan uang. (Bahkan terjadi pemutusan sponsor.)
  2. Perbedaan waktu antar tempat yang dikunjungi.
  3. Manajemen kelompok internal dan kelompok eksternal. (Internal adalah tim inti Pandji dan eksternal adalah tim dari daerah tersebut.)
  4. Pengelolaan emosi dan perasaan saat menghadapi tantangan, jauh dari keluarga, kekecewaan dan lain-lain.
  5. Penjualan tiket.
  6. Dan seterusnya

Tantangannya banyak loh.

Tantangan ini menghasilkan tekanan-tekanan yang harus dihadapi and like it or not these pressures are real and will happen to all profession in one way or another. Remember the higher means responsibilities. Thus, its apparently wise for you to quit it. Professional work is not for the weak minded people.

[The One Liner ATTACC]

  1. Dalam tim Pandji terdapat perbedaan pandangan politik. Ada yang mendukung Basuki ada yang mendukun Anies. Namun kotak politik dan kotak persahabatan adalah hal yang berbeda. Sehingga persahabatan dan profesionalitas tetap terjaga. [Profesionalitas]
  2. Pandji mengalami pemutusan kontrak oleh sponsor. Tapi, tidak sama dengan Pandji tidak lagi melakukan perjanjian di awal. Pandji tetap melakukan kewajibannya sesuai dengan kontrak. Ini merupakan bentuk junjungan tinggi dengan perjanjian. [Integritas]
  3. Pandji melatih bit-nya selama enam bulan dan menerima berbagai macam masukkan untuk meningkatkannya. [Persiapan]
  4. Pandji menolak sponsor dari perusahaan-perusahaan rokok dan ini merupakan idealisme dirinya terlepas dari fakta berkat ini pula Pandji harus mencari-cari sponsor. [Prinsip]
  5. Dalam setiap proposal Pandji memastikan proposalnya unik, custom made, ke tiap-tiap calon sponsor. [Respect]

 

[Personal Summary] The Calm Investor Karya Teguh Hidayat

716060244_the2bcalm2binvestor

Buku “The Calm Investor” karya Teguh Hidayat merupakan pembukaan dari #OneBookPerWeekChallenge yang saya jalanin. Terlebih lagi, saya juga menambahkan personal summary-nya. (Disclaimersummary yang saya tulis merupakan poin-poin yang saya anggap penting, karena itu saya tekankan ini personal summary.)

Terdapat tujuh bab di buku ini.

[Bab 1] Mengapa ‘Berinvestasi Saham’ Sangatlah Berbeda Dibanding Sekadar ‘Menganalisis Saham’

Analis saham dan individu yang telah berkarir di dunia saham memiliki perbedaan. Analis saham, selihai apa pun, tidak sama dengan lihai menghasilkan gain di dunia saham. Sedangkan, individu yang telah berkarir pasti mengerti tentang cara menganalisa saham. Oleh karena itu, orang yang berhasil di dunia saham atau investasi adalah orang-orang yang memang telah memasukinya secara langsung, mampu menganalisa sendiri apa-apa yang sebaiknya dilakukan dan dapat menganalisanya sendiri. Namun perlu dicatat juga, bahwa tidak sama dengan kita tidak boleh meminta saran, analisa, dan masukkan dari orang lain, karena ajuan mereka dapat menjadi second opinion.

Ini juga yang menyebabkan banyak investor menderita kerugian di tahun-tahun pertamanya, karena ketidakmampuan memiliki analisa yang mandiri. Karenanya, wajar pula investor baru bisa menikmati keuntungan di tahun-tahun setelahnya. We have to learn then earn.

[Bab 2] Kepribadian Seorang Investor

Kunci sukses seseorang di bidang apa pun terletak di kualitas dirinya. (Meritokrasi.) Kualitas diri termasuk perilaku dan kepribadian. Trait seseorang yang memiliki kualitas diri adalah jujur, dapat dipercaya, belajar dari pengalaman (terbuka) dan pantang menyerahSo, selain bekal intelektual, bekal perilaku, kepribadian, karakter, etika, dan hal-hal yang bersangkutan dengan hubungan personal manusia jugalah penting.

Kebali ke investor saham, kegagalan seorang investor cenderung diakibatkan oleh ketidakmampuan meregulas nervous, bingung, galau, deg-degan, emosi dan perasaan saat melaksanakan keputusannyaHal-hal ini merusak kejernihan pikiran. Untuk melatih kejernihan pikiran hal-hal kecil, sebagai manusia, harus dilakukan:

  1. Membuang sampah pada tempatnya.
  2. Saat bangun segera rapikan tempat tidur dan sebelum berangkat kamar harus bersih.
  3. Saat makan di restaurant pastikan setelah makan piring-piring kotor ditumpuk di tengah agar membantu pelayan membersihkan meja.
  4. Bila ada orang yang membutuhkan bantuan di jalan seperti uang dan makanan segeralah membantu.
  5. Dalam keseharian pula, kembangkan pengucapan kata ‘Tolong’, ‘Maaf’, dan ‘Terima Kasih.’ Kata-kata ini menunjukkan penghormatan kepada orang yang sedang kita hadapi. Bahkan, kebiasaan menggunakan kata ini dapat menjadikan dirimu sebagai contoh.
  6. Pastikan tepat waktu.
  7. Bersikap ramah kepada semua orang.
  8. Lepaskan rasa gengsi. Gengsi tidak membuatmu kaya. Sama sekali tidak.
  9. Hematlah dalam berbicara. Pastikan setiap pembicaraanmu, sebisa mungkin, valid, reliabel, berfaedah, dan to-the-point. Hormati waktu semua pihak!
  10. Hindari gosip. Ingat! Pembicaraan yang berfaedah!

Hal-hal kecil ini memupuk rasa malu yang rasional, sikap jujur, kebersamaan, persaudaraan, tolong menolong dan disiplin diriKita ini negara yang gotong royong!

Yang dituju dalam peningkatan kualitas diri adalah kedewasaan mental. Kedewasaan dalam menghadapi sesuatu, menjalani sesuatu, dan dapat melakukan hal-hal yang tepat sesuai kondisi.

[Bab 3] Cara Berpikir Seorang Investor

Seorang investor akan berpikir segala hal di dalam kehidupan adalah investasi. Misalkan saat seorang investor memiliki uang lebih, apakah dia akan menghambur uangnya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat? Tidak. Dia akan menghabiskan uangnya untuk, katakan, membeli buku, secangkir kopi demi menikmati suasana tenang sejenak, kebersamaan dengan keluarga, dan seterusnya. Investor bukanlah konsumen! Investor adalah mereka yang memastikan semua uang yang dia keluarkan bermanfaat secara jangka panjang! Dengan uang Rp50.000 di saku dia akan memilih makanan yang sehat demi menjaga kesehatannya secara jangka panjang. Semua uang yang keluar baik untuk makan, minum, pembelian aset, semuanya dipertimbangkan secara jangka panjang! Ini adalah gaya hidup.

Cara berpikir ini memastikan penggemukkan aset dan memastikan kehidupan yang lebih baik. Investasi atau trading is not for a living, but for a better life! 

[Bab 4] Gaya Hidup ala Investor

Dengan cara berpikir investor maka GUNAKAN UANG DAN WAKTU HANYA UNTUK INVESTASI! Setiap kali mengeluarkan uang, waktu, energi, dan daya pastikan itu bermanfaat dalam jangka panjang! Cara berpikir investor akan melahirkan gaya hidup ala investor yang sederhana atau semua dalam taraf yang sewajarnya.

Di dunia ini, terdapat banyak sekali orang yang membeli sesuatu yang tidak mereka butuhkan, menggunakan uang yang tidak mereka miliki (utang), hanya untuk pamer kepada orang yang tidak mereka sukai! – Clive Hamilton

Warren Buffet mengatakan bahwa, “Berikanlah anak-anak Anda uang yang cukup agar mereka bisa melakukan apa saja. Namun, jangan beri uang yang terlalu banyak hingga mereka tidak perlu melakukan apa-apa lagi.” APPLY THIS TO YOUR LIFE.

  1. Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?
  2. Apakah jika saya membeli barang ini, maka saya masih memiliki cukup uang untuk keperluan-keperluan lainnya yang sama pentingnya?

[Bab 5] Buffet Tidak Pernah Melakukannya, Jadi Mengapa Anda Harus Melakukannya?

Salah satu kebutuhan wajar manusia adalah kebutuhan ingin diakui dan this is an apparent di investor terutama yang baru. “Bro, bro, bro gue udah megang saham ini.” Yes, kebutuhan untuk diakui. Tapi, logikanya gini deh, Warren Buffet (an arguably the best investor) tidak pernah menyombongkan diri dan/atau mencari-cari pengakuan. Terus apa hak investor yang belum selevel dengan beliau?

Terlebih lagi dalam surat-surat tahunan Buffet, Buffet sering menyebut dirinya ‘bodoh’.

[Bab 6] Pengalaman: Modal Terpenting Seorang Investor

Pengalaman adalah yang penting, amat penting.

  1. Warren Buffet memulai investasinya di saham pada usia 11 tahun.
  2. Terlebih lagi ayahnya Buffet adalah pialang saham.
  3. Kemudian Buffet saat berusia 24 tahun ia bekerja sebagai analis di perusahaan investasi milik Benjamin Graham pengarang buku “The Intelligent Investor” dan “Security Analysis.”

Jadi, ketahuan Buffet, terlepas sebagai anak muda 20 tahunan, bukanlah “anak kemarin sore.” Maka, jika kita mengasumsikan Buffet memulai karier sebagai investor dari usia 11 tahun, dirinya membutuhkan pengalaman 21 tahun untuk menjadi investor besar (millionaire), dan butuh tambahan 28 tahun untuk menjadi investor sangat-sangat besar (billionaire).

Selain Warren Buffet, Nicolas Darvas juga membutuhkan tujuh tahun untuk mearih US$2 juta.

So, pada akhirnya kesimpulannya tetap sama: Pengalaman itu penting, sangat penting. Tidak pernah ada suatu hal yang disebut dengan ‘cara cepat kaya’ di dunia, entah itu di saham ataupun di bidang lainnya. – Teguh Hidayat

Oleh karena itu, penundaan adalah kebodohan. Mulai sekarang sehingga Anda mampu memupuk pengalaman dari saat ini juga! Tabung pengalaman sekarang juga, karena Anda tidak bisa jago dan lihai hanya dengan membaca teorinya dari buku, melainkan harus Anda praktikkan sendiri!

Selain pengalaman, Anda juga harus memiliki mentor. Mentor dapat memberikan arahan dan Anda dapat meniru apa yang dilakukannya. Ini semua menyatakan pula Anda harus memupuk kesabaran, karena the best and the worse is yet to come.

Bahkan, dalam pemahaman lebih eksplisit, jangan terlena dengan usia muda. Teguh Hidayat sendiri memulai investasi saham usia 23 tahun dan telah menulis analisa di usia 24 tahun. Dan pada saat usia 29 tahun, beliau, Teguh Hidayat, sudah menulis buku ini, “The Calm Investor.” Selama masih muda, gali sebanyak-banyaknya pengalaman dan berdiri. Secara jangka panjang, pengalaman akan mengajarkan Anda untuk mengelola keuangan.

Beberapa alasan anak muda adalah “tidak memiliki modal”, padahal walau memiliki modal Rp10 miliar kalau bodoh ya tetap aja hilang itu modal. (Bahkan! Saat ini ada alternatif investasi hanya dengan Rp10 ribu.

Perhitungan ini memaksakan Anda untuk meluangkan waktu Anda untuk belajar mengenai investasi saham (dan apa saja yang bersangkutan dengannya) seperti fundamental, teknikal, iklim politik, kebijakkan pemerintah dan seterusnya. Contoh Lo Kheng Hong yang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari selama tujuh tahun sebelum benar-benar menjadi investor tulen. (katakan sehari dua jam, maka beliau menghabiskan 5110 jam.)

[Bab 7] Mengapa Saya Panik

Panik dikarenakan tidak tahu dan/atau memahami apa yang dibeliPastikan membeli apa yang Anda ketahui dengan akurat. Dalam praktiknya investor panikkan juga serakah. Contoh investor serakah:

  1. Membeli saham A di harga Rp200, dan dijual di harga Rp230. Namun di akhir hari saham tersebut berhenti di Rp250 yang menimbulkan perasaan menyesal.
  2. Membeli saham A di harga Rp200 dengan modal Rp1 juta. Padahal total modal Anda Rp10 juta. Dan harga saham A naik ke Rp250 dan Anda menyesal, karena hanya beli dengan Rp1 juta.
  3. Membeli saham A di harga Rp200 dan naik ke Rp250, tetapi saham B naik 100% dan Anda menyesal.

Ini contoh orang serakah dan more often than not otaknya lebih nihil, karena gangguan mental “Saya ingin mendapatkan lebih, dan lebih, dan lebih!!!!” Justru itu dijelaskan di bagian-bagian sebelumnya KEDEWASAAN MENTAL!

Saya sangat setuju dengan pemaparan bapak Hidayat, yakni investasi adalah permainan tanpa hentiInvestasi bagai permainan bola di mana Anda bisa mencetak gol terus-menerus selama nafas masih berhembus.

Balik ke pemparan di awal:

Individu yang dewasa dapat mengelola rasa panik dan serakahnya. Panik menjadikan dirinya lebih perhatian terhadap apa yang dibelinya. Serakah menjadikan dirinya lebih haus untuk belajar, mengedukasi diri, dan meningkatkan dirinya demi profit yang lebih tinggi! – Karuniyado

[Penutup]

Saya pribadi selama bermain dan berkecimpung di dunia saham, investasi, market, bermain bukan hanya demi uang. Tapi, juga untuk pertumbuhan diri. Pertumbuhan kualitas diri. Perlahan-lahan kualitas tersebut memberikan kepuasaan terhadap diri sendiri dan itu terus berlanjut. Berputar. Keinginan untuk meningkatkan diri menghasilkan pertumbuhan dan menghasilkan kepuasan dan begitu terus. Pada ujungnya hal ini mendorong saya untuk berbagi.

Faktanya saya lebih sering menulis dan berdiskusi berkat ini.

 

 

(Second disclaimer: Apa yang tertulis di sini merupakan summary dari apa yang saya anggap penting dan memang dibumbui dengan penalaran-penalaran saya pribadi. All in all, hak cipta dipegang buku dimiliki oleh penulisnya.)